Skip to main content
Story

Perjalanan yang Membekas: Mengikuti Jejak Rasa dan Budaya di Bali.

By January 21, 2026No Comments

Ada perjalanan yang sekadar menambah foto di galeri, dan ada pula perjalanan yang menambah cerita di hati. Perjalanan kami kali ini ke Bali termasuk jenis yang kedua—penuh kejutan kecil yang manis, suasana hangat, dan rasa syukur yang sulit diungkapkan. Mungkin karena tempat-tempat yang kami kunjungi, mungkin karena makanan yang kami cicipi… atau mungkin karena rasa syukur yang terus menyertai setiap langkah—sejalan dengan keyakinan akan nilai yang selalu digaungkan BTPN Syariah: setiap langkah membawa berkah.

Penglipuran Village – Kebaya, Salak Manis, dan Siang yang Tenang

Kami tiba di Penglipuran Village tepat saat matahari siang mulai menghangat. Udara bersih, suasana tenang, dan rapi membuat kami spontan ingin larut lebih dalam dalam nuansa tradisinya.

Di sebuah sudut desa, kami disambut oleh ibu-ibu lokal yang menawarkan kebaya khas Bali. Tanpa pikir panjang, kami berganti pakaian—mengenakan kebaya indah dengan warna-warna cerah yang langsung membuat kami merasa menjadi bagian dari kehidupan desa. Rasanya anggun, sederhana, dan penuh makna.

Masih dalam balutan kebaya, kami disuguhi salak Gudang Pasir, salak khas Bangli yang manis legit. Daging buahnya renyah dengan rasa manis yang langsung meleleh di lidah. Makan salak di tengah suasana desa adat yang damai membuat kami seperti kembali ke masa ketika hidup berjalan perlahan dan penuh syukur. Kami berjalan menyusuri jalan setapak berbatu, sambil menikmati pemandangan rumah bambu yang tersusun rapi dan angin siang yang hangat. Penglipuran benar-benar memberikan kedamaian yang sulit kami temukan di tempat lain.

Durian Bangli Sribatu – Disambut Sang Ibu Legendaris Durian Bali

Pemberhentian berikutnya menjadi salah satu bagian paling berkesan dari perjalanan hari itu: Durian Bangli di kawasan Sribatu. Kami berhenti di sebuah lapak sederhana. Di sana, seorang ibu penjual durian menyambut kami dengan senyum tulus. Tangannya cekatan membuka durian satu per satu, dan dari cara beliau memperlakukan setiap buah, kami tahu ia bukan sekadar penjual—ia seorang maestro penjual durian Bali. “Ini yang paling bagus, manisnya pas, dagingnya tebal,” katanya sambil menyodorkan durian yang baru dibelah. Dan benar saja—dagingnya tebal, aromanya menggoda, teksturnya creamy, dan rasanya… luar biasa. Kami makan sambil tertawa, sembari bercanda setelah lelah berkeliling desa, sementara ibu penjual itu hanya tersenyum melihat tingkah kami.

Ada kehangatan dalam momen itu—perpaduan antara keramahan khas Bali dan rasa durian yang kami cicipi.

Green Kubu – Hidangan Lezat di Tengah Hamparan Hijau

Jika Penglipuran memberi kami ketenangan budaya, Green Kubu memberi kami kehangatan khas Bali dalam bentuk yang berbeda: suasana makan yang menyatu dengan alam dan tradisi. Ketika makanan datang, aroma rempah-rempah Bali langsung menyapa. Nasi hangat, ayam dengan bumbu meresap, sambal matah yang segar, dan sayuran dengan cita rasa khas Bali membuat lidah kami menari-nari. Kami sepakat bahwa makan di Green Kubu bukan hanya tentang makanan, tapi tentang pengalaman—tentang bagaimana suasana, pemandangan, dan rasa bersatu menciptakan kenangan yang menetap.

Angin siang yang sepoi-sepoi membuat kami semakin betah. Sesekali, kami memotret pemandangan, memotret makanan, dan tentu saja memotret kebersamaan kami. Obrolan santai, pemandangan hijau, dan makanan lezat membuat kami merasa seolah waktu berjalan lebih lambat. Tempat ini adalah perpaduan sempurna antara kuliner dan ketenangan.

Seafood di Pantai Kelan – Masakan Enak Warung Happy Gen dan Sunset yang Cerah

Menjelang sore, kami menuju Pantai Kelan, dan kali ini kami memilih makan di Warung Happy Gen—tempat yang terkenal dengan seafood lezatnya. Saat hidangan datang—ikan bakar aneka ragam—aroma bumbunya langsung membuat kami tidak sabar.

Masakannya benar-benar enak, bumbunya meresap, dan semuanya terasa segar. Kami makan sambil duduk menghadap pantai, menikmati ombak yang tenang dan angin sore yang lembut.

Lalu, momen terbaiknya tiba: sunset cerah yang perlahan turun di ufuk barat. Langit berubah dari jingga lembut menjadi keemasan, seolah menyinari seluruh pantai. Kami terpaku menikmati keindahannya—perpaduan rasa syukur, tenang, dan kagum.

Krisna – Mengemas Kenangan dalam Oleh-Oleh

Sebelum kembali, kami berhenti di Krisna untuk membeli oleh-oleh. Pie susu, kacang disko, kopi Bali, dan berbagai camilan khas kami pilih untuk dibawa pulang. Setiap barang di tas kami terasa seperti potongan kecil dari hari itu—kenangan yang siap kami bawa pulang. Saat malam tiba dan kami kembali ke penginapan, kami saling menatap sambil tersenyum—lelah, tapi bahagia. Hari itu terasa seperti rangkaian berkah kecil yang disusun rapi oleh semesta.

Berganti kebaya di Penglipuran, mencicipi salak manis, makan siang tenang di Green Kubu, menikmati durian Bangli, duduk sambil menonton senja di Pantai Kelan, dan pulang dengan tas penuh oleh-oleh…

Sungguh perjalanan yang begitu berkesan—dan tanpa ragu, kami ingin mengulangnya kelak.

 

admin

Author admin

More posts by admin

Leave a Reply